Masa Depan Suram Pasar Pelita Bagansiapiapi

Teriakan pedagang terdengar bersahutan tawarkan barang ditengah aneka aroma berbaur menjadi satu. Tidak terlihat perbedaan kasta dan strata. prosesi jual beli, tawar menawar harga menjadi hal yang biasa

Oleh : Masrul Gusti

Sempat populer dari era setengah abad lalu hingga penghujung tahun 90 an, dengan nama Pajak Sempit, sebagai pasar tradisional terpadat dan tersibuk dikota Bagansiapiapi, Kabupaten Rokan Hilir Riau.

Ratusan bahkan ribuan Wiraniaga dari berbagai etnis dengan aneka ragam dagangan seolah-olah berlomba lomba berekspresi untuk menarik minat para konsumen, Mulai dari tukang sayur, es batu hingga penjual ikan asin dan Terasi.

Meskipun bangunan losnya sangat sederhana namun antusiasme masyarakat sangat tinggi. diperkirakan ribuan masyarakat dari berbagai daerah mendatangi pasar tersebut tiap harinya dan proses transaksi perekonomian masyarakat berjalan lancar

Pasar Pelita saat itu menjadi Sentral perdagangan dan menjadi urat nadi ekonomi Kota Bagansiapiapi. Selain transaksi perdagangan sebagian muda mudi juga menjadikan area tersebut sebagai tempat mejeng alias sekedar cuci mata.

Waktu terus berjalan Oktober, tahun 1999 Kota Bagansiapiapi yang semula hanyalah kota kecamatan kini berubah status menjadi Ibukota Kabupaten Rokan Hilir.

Geliat kabupaten baru dengan segala prospek menuntut laju pembangunan dalam segala aspek baik aspek infrastruktur, salah satunya pasar Pelita.

Tepat pada tahun 2000 an pasar ini dibangun oleh pemerintah melalui dana APBD Rohil. Tidak tanggung-tanggung dibangun tiga lantai sekaligus dengan corak semi modern yang dilengkapi dengan tangga eskalator dan manual.

Seiring berdirinya bangunan megah itu begitu pula dengan harapan harapan indah dari para pedagang, pengurus pasar dan juga masyarakat Bagansiapiapi khususnya.

Bangunan megah itu diresmikan langsung oleh bupati saat itu Annas Maamun, dengan didampingi para petinggi publik daerah itu. Seremonial termegah, semegah bangunan kokoh tiga lantai itu. Saking megahnya sebagian masyarakat hanya berani melihat dari jarak jauh saja.

Sedikitnya acara peresmian itu menjadi panggung kepentingan dan pencitraan. Retorika yang disampaikan saat itu bak sebuah instrumen romantis dari komposer musik terhebat yang terdengar merdu bagi siapapun mendengar. Masyarakat terbuai..

Paska dibangun, awalnya sentra perdagangan yang terletak ditengah tengah kota itu begitu ramai dikunjungi warga lokal maupun luar kota. Wajah wajah pedagang yang dulunya terlihat kumuh berganti dengan raut muka segar nan inovatif dengan sejuta harapan.

Namun Ironis, seiring berjalannya waktu, satu persatu pedagang pergi begitu pula konsuman. Hiruk pikuk transaksi perlahan- lahan berganti sepi.
Senyum sapa ramah pramuniaga lenyap seketika, ratusan los dan kios membisu.

Dari 172 kios tersedia, saat ini hanya 12 kios yang di tempati pedagang di lantai dasar. Sementara di lantai dua dan tiga kosong melompong. Perputaran ekonomi sekitar mulai stagnan

Dalam upaya pemulihan sektor ekonomi kemasyarakatan ini, Pada tahun 2020 lalu Bupati Suyatno pernah melakukan kunjungan, Dalam kunjungan itu, Bupati menegaskan Pasar Pelita yang bersejarah itu tidak akan dibiarkan dalam kondisi sepi pengunjung. Pihaknya akan melakukan pembenahan agar Pasar Pelita bisa kembali ramai.

Suyatno mengintruksikan dinas terkait untuk menyiapkan program rehabilitas Pasar Pelita lebih menarik agar pedagang mau berjualan dan pembeli lebih berminat.

Meskipun rencana renovasi terealisasi namun keadaan tetap tidak berubah. Hingga kini pasar yang dulunya jadi kebanggaan masyarakat Bagansiapiapi dan sekitarnya kini terlihat sepi. Dihalaman parkiran terlihat sejumlah pemuda dan tukang becak hilir mudik tanpa tujuan jelas.

Tidak hanya itu, Bangunan megah menjulang itu kini dalam kondisi rusak disana sini alias memprihatinkan. Hingga kini belum ada tindakan kongrit dari pemkab mengembalikan kejayaan Pasar Pelita seperti puluhan tahun lalu.

“Perlu manajemen yang baik, saat ini tidak ada manajemennya,” kata seorang anggota DPRD Rohil Imam Suroso, saat dimintai tanggapan oleh media www. seribukubah.com, Jumat (20/5/23) di Bagansiapiapi.

Kemunculan pasar- pasar kecil dan sistem dagang online dengan layanan delivery kata Imam Suroso, juga menjadi salah satu faktor.

“Masyarakat sekarang menginginkan segala sesuatu dengan instan, keinginan terjawab dengan hadirnya para pedagang pinggir jalan maupun pedagang online,” kata politisi Partai Demokrat ini.

“kita bisa menjadikan pasar pelita itu aktif dan ramai kembali tapi pemerintah harus berperan aktif, salah satunya menyediakan anggaran,” ujarnya.

Instansi terkait yakni Dinas Perdagangan dan Pasar (Disperindag) Rohil terkesan bungkam. Setiap kali dihubungi via nomor ponselnya, Sang Kepala Dinas seolah-olah ogah untuk menjawab wartawan.

Pos terkait